Urban Farming, Solusi HBK Ciptakan Suasana Hijau Dan Wujudkan Ketahanan Pangan

0
32
HBK saat menyapa warga perkampungan, ibu rumah tangga istri petani.

Mataram – Ketua Badan Pengawasan dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H. Bambang Kristiono (HBK) dorong konsep urban farming ditengah perkampungan dan kota untuk mengoptimalkan ketahanan pangan daerah. HBK mengatakan, Jika dikembangkan dengan baik, konsep urban farming juga bisa mendukung kekuatan pangan nasional di masa mendatang.

“Intinya urban farming ini bisa menjadi solusi bagi emak-emak (ibu rumah tangga) untuk menekan biaya rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari. Dan dalam jangka panjang, ini bisa membantu kekuatan pangan kita secara nasional,” katanya pada Senin (3/12).

HBK mengatakan turunnya jumlah petani, urbanisasi, dan keterbatasan lahan, hingga kini menjadi masalah serius dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Menurutnya urban farming di Indonesia belum dikembangkan serius untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sejauh ini hanya sebatas tren gaya hidup. Namun tren ini belum diproyeksikan untuk pemenuhan kebutuhan pangan.

Selain itu lanjut HBK, pola urban farming juga akan membantu menciptakan suasana hijau dan asri di perkampungan Kota. Pertanian dengan lahan sempit di perkotaan itu digadang bisa menjadi solusi permasalahan pangan.

“Kalau kita serius, itu (urban farming) sebenarnya salah satu upaya untuk mengatasi kelangkaan pangan bahkan mal nutrisi di masyarakat kota,” ungkapnya

Pemerintah sendiri belum menjadikan pangan sebagai isu utama Negara. Pembahasan pangan menurutnya hanya dilakukan saat ada krisis. “Dan setiap kali krisis, solusinya adalah impor. Paradigma itu yang perlu dirubah, kita harus mulai membangun kemandirian,” kata HBK.

HBK mengatakan, konsep urban farming bisa dimulai juga di NTB, terutama Pulau Lombok. Hal ini akan semakin efektif bila dilakukan dengan penggandeng kelompok ibu rumah tangga anggota PKK dan juga Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Dikembangkan dengan program yang melibatkan PKK dan KWT juga akan semakin baik. Karena selama ini kan kebijakan pemerintah kita di daerah juga masih sporadis soal pertanian. Padahal jika semua diintegrasikan akan semakin bagus,” katanya.

Ia mencontohkan, program PKK yang terpusat memiliki dua aspek yang bisa dimanfaatkan. Yakni dari sisi Kebun Gizi yang berhubungan dengan Kesehatan, dan juga Kebun Bibit yang berhubungan dengan Pertanian.

Namun, dua-duanya bisa bersinergi dengan pola urban farming. Ibu rumah tangga bisa memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman pangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari, dan bisa juga menanam tanaman apotik hidup untuk kebutuhan kesehatan.

“Dalam satu sisi itu saja, maka Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian bisa ikut intervensi. Selain PKK, juga bisa dilibatkan kelompok wanita tani (KWT). Jadi sebenarnya sumber daya kita ada, jangan anggap remeh potensi emak-emak ini,” katanya.

Menurut HBK, jika konsep urban farming ini dipadukan dengan pertanian terintegrasi, bukan tidak mungkin akan banyak pengusaha yang tertarik untuk berinvestasi mengembangkannya lebih baik lagi di NTB ini.

aNd_dbd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here