Polda Selidiki Dugaan Pemotongan Jatah Benih Bawang Putih Lombok Timur

0
229
Direskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsudin Baharuddin

Mataram – Kepolisian Daerah melalui Ditreskrimsus Polda NTB, tindaklanjuti dugaan pemotongan jatah benih bawang putih lokal di Kabupaten Lombok Timur. Krimsus bahkan menerjunkan tim, untuk melakukan pengumpulan data termasuk meminta klarifikasi pihak terkait.

Direskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsudin Baharuddin saat dimintai keterangan pada Senin (28/05) mengungkapkan, dalam upaya pengumpulan data dan keterangan ini sejumlah pihak yang berkaitan dengan pendistribusian bantuan tersebut, telah dimintai keterangan sejak sepekan terakhir.

“Mulai dari kalangan petani bawang putih sampai kepada pejabat Dinas Pertanian Lombok Timur. Dari dinas, kita sudah dapatkan data. Ada juga beberapa petani yang sudah kita mintai keterangannya,” beber dia.

Upaya puldata (pengumpulan data) dan pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) ini, pasalnya akan terus berlanjut sampai bahan yang dibutuhkan di rasa cukup mengarahkan ke indikasi kerugian negara. “Anggota masih di lapangan. Masih kumpulkan data. Kita akan kupas,” tegas Kombes Pol Syamsudin.

Menurut data yang dihimpun pada Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, sedikitnya terdapat 350 ton benih bawang putih lokal yang didistribusikan kepada 181 kelompok tani yang tersebar di 18 Desa se-Kabupaten Lombok Timur. Dengan luasan yang berbeda-beda, setiap kelompok tani mendapatkan kuota benih lokal bersama dengan paket pendukung hasil produksinya, mulai dari mulsa, pupuk NPK plus, pupuk hayati ecofert, pupuk majemuk, dan pupuk organik.

Benih bawang putih lokal ini menurut informasi dibeli dari hasil produksi petani di Kecamatan Sembalun. Tepatnya pembelian itu dilakukan pada periode panen pertengahan tahun 2017 lalu. Benih bawang putih lokal dibeli pemerintah melalui salah satu BUMN yang dipercaya sebagai penangkar yakni PT. Pertani, dimana pembeliannya menggunakan anggaran APBN-P 2017 senilai Rp30 miliar.

Konon, pada saat pendistribusian bantuannya di akhir tahun 2017, banyak kelompok tani yang mengeluh tidak mendapatkan jatah sesuai data. Bahkan ada sebagian dari kelompok tani yang tidak sama sekali kebagian jatah.

Seperti yang sebelumnya pernah diungkapkan oleh salah seorang ketua kelompok tani yang masuk dalam daftar penerima bantuan di Sembalun, Sinawarni. Dia bersama sejumlah ketua kelompok tani penerima bantuan menduga, ada yang tidak beres dengan kegiatan pendistribusiannya.

“Dari Desa Sembalun Bumbung contohnya, ada kelompok tani atas nama Sembalun Bumbung Hijau, dengan ketuanya Amaq Gofar, luas lahannya 2 hektare, jatah benih lokalnya 1.400 kilogram. Tapi sebiji pun dia tidak dapat, dikemanakan benihnya,” kata Sinawarni, belum lama ini.

aNd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here