Pesona Sekotong Membuat Tetangga Iri, Isu Mercury Bergulir

0
49
Pantai Nambung, Sekotong masuk ke wilayah yang ‘Diperebutkan’ Pemkab Lobar dan Loteng (Humas Lobar)

Lombok Barat – Geliat pariwisata di kawasan Sekotong dan Lobar secara umum mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Beberapa agenda sudah mulai digelar Pemkab Lombok Barat di kawasan Sekotong, sebagai upaya menarik minat atau kunjungan wisatawan. Ditengah pengembangan pariwisata yang terus merangkak naik, isu ancaman mercury justru bermunculan. Isu air pantai yang mengandung mercury itu pasalnya sebagai dampak dari aktivitas pertambangan liar dikawasan Sekotong.

Hal itupun ditanggapi Camat Sekotong Lalu Ahmad Satriadi. Menurutnya munculnya isu mercury itu tidak lebih dari tourism politic atau politik pariwisata. Dimana berkembangan kawasan Sekotong kini menjadi saingan dari daerah pariwisata terdekatnya yakni Bali. “Itu kelihatan sekali, karena Sekotong dianggap saingan,” cetusnya.

Ancaman bahaya mercury menurut penelitian yang dilakukan oleh International POPs Elimination Network (IPEN), Biodiversity Research Institute (BRI), dan BaliFokus. Menemukan bahwa dampak paling nyata dari mercury itu adalah pencemaran air. Jika melihat bahaya jangka panjangnya, manusia yang menanggung beban dampak mercury pada tubuh, terancam kerusakan otak dan gangguan ginjal. Bahkan terparah, ada isu bahwa ada ditemukan beberapa penyakit aneh yang mulai menjangkiti masyarakat Sekotong.

Menjawab itu, Satriadi menegaskan bahwa tidak ada penyakit aneh seperti yang diklaim oleh pihak peneliti yang tidak diketahuinya itu. Menurut dia, di Sekotong ada Puskesmas, ada dokter ahli. “Dan saya ingin tanya, diambang berapa yang dikatakan bahaya itu. Kan dokter gigi juga pakai mercury, kenapa itu tidak bahaya. Cosmetic juga pakai mercuri. Tolong jelaskan ambang batasnya berapa,” ujarnya bertanya-tanya.

Sebaliknya, berangkat dari ancaman itu Camat Sekotong justru menantang pihak yang konon melakukan penelitian terkait ancaman mercury di Sekotong untuk menunjukkan data ilmiah dari hasil penelitiannya. Bahkan dengan tegas Satriadi mengatakan bahwa sampai sejauh ini belum pernah ada pihak yang datang ke kantornya untuk meminta izin melakukan penelitian. Tak hanya itu, dari Puskemas setempat pun juga tidak ada informasi terkait adanya penyakit aneh yang menjangkiti warga Sekotong.

“Jangan ngomong-ngomong tanpa bukti itu. Ini kan tehnis, ini harus dijawab dengan data. Menurut saya ini hanya politik pariwisata, dia tahu pariwisata Sekotong mulai bangkit dengan mulai dibangunnya jalan, jembatan dan listrik yang rencananya dialirkan ke kawasan Gili Gede,” tudingnya.

Sekotong, seperti diketahui memiliki begitu banyak potensi. Mulai dari potensi di sektor pertanian, pertambangan, perikanan dan kelautan, terlebih potensi pariwisata yang begitu menjanjikan. Khusus untuk sektor pariwisata, Pemkab Lobar dibawah kepemimpinan H. Fauzan Khalid kini mulai fokus mempromosikan kawasan Sekotong. Bebeberapa kegiatan pun mulai dilakukan dikawasan tersebut, seperti event Mekaki Marathon dan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mempromosikan sektor pariwisata di Sekotong.

Tak hanya dari kalangan pemerintah, masyarakat sekitar pun mencoba mengambil peran untuk mempromosikan daerah paling barat Kabupaten Lobar itu. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sebelumnya melempem kini mulai menunjukkan aksinya melalui media promosi. Dan tak hayal, upaya pemda dan masyarakat membuahkan hasil. Tingkat kunjungan wisatawan pun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Kendati belum terdata maksimal, namun masyarakat sudah mulai merasakan dampak dari meningkatnya sector pariwisata Sekotong.

aNd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here