NTB Contoh Terbaik Kehidupan Beragama di Dunia

0
91
Pembukaan Multaqa Nasional Alumni Mesir, di Ballroom Islamic Center Provinsi NTB, Rabu (18/10).

MATARAM – Potret kehidupan umat Islam di NTB, sebagai cerminan Islam di Indonesia yang penuh dengan moderasi dan toleransi serta mengedepankan nilai-nilai kebersamaan menjadi contoh terbaik bagi kehidupan beragama di dunia.

Tatanan kehidupan umat Islam di Bumi Seribu Masjid ini sekaligus dapat meluruskan persepsi tentang Islam yang selama ini disalahpahami oleh banyak kalangan. Padahal, Islam yang selalu hidup rukun dan saling tolong menolong dengan umat agama lain, seperti di NTB ini begitu dirindukan oleh umat-umat di dunia, bahkan di Arab.

Wakil Ketua WOAG yang juga Mantan Menteri Waqaf Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi menyatakan kekagumannya, sekaligus menyerukan Umat Islam dunia untuk mencontoh kehidupan toleransi kehidupan beragama di NTB,  saat pembukaan Multaqa Nasional Alumni Mesir, di Ballroom Islamic Center Provinsi NTB, Rabu (18/10).

“Contoh di NTB ini, kami kehilangan di Arab,” ungkap Wakil Ketua WOAG tersebut di hadapan Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi dan ratusan alumni Al Azhar Mesir yang hadir.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Islam itu bukan potongan-potongan tubuh manusia yang terlempar akibat bom bunuh diri. Islam itu bukanlah kehidupan yang saling membenci atau saling menjauhkan diri dengan umat lain.

Namun, Islam itu adalah saling berkontribusi, saling membangun hidup dan saling memberi kemanfaatan dalam kedamaian dengan seluruh  umat beragama. Seperti yang di contohkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad SAW saat membangun Kota Madinah.

Hanya saja, ia masih merasa heran kenapa toleransi yang baik di Indonesia atau di NTB ini belum ditularkan di seluruh belahan dunia. Menurutnya, umat Islam di seluruh dunia merindukan kehidupan umat beragama yang damai dan penuh toleransi seperti di NTB.

Karena, saat ini lanjutnya yang dibutuhkan umat Islam itu bukanlah wacana atau apa yang tertulis di buku-buku atau pidato-pidato. Namun yang paling dibutuhkan adalah pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan bahwa Islam di NTB itu bukanlah sekedar wacana atau sekadar teori yang tidak diterapkan dalam kehidupan nyata.

Hal ini tegas TGB, dengan dibukanya segmen baru Pariwisata di NTB. Yaitu, wisata halal atau muslim friendly tourism. Melalui segmen ini, disamping menambah segmen pariwisata yang ada juga untuk menunjukkan bahwa ada bagian-bagian dalam Islam itu yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi.

“Itu menunjukkan bahwa ajaran ajaran Islam itu membawa kebaikan di dalam tataran dunia nyata,” ungkapnya.

Wisata halal ini, lanjut TGB tidak hanya dapat dinikmati oleh umat muslim saja. Namun seluruh masyarakat, baik muslim, Hindu, Budha, Kristen dan umat umat lainnya dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan pariwisata tersebut.

“Ini adalah contoh bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamiin,” tegas TGB.

Sekjen OIAA, Dr. Muchlis M. Hanafi melaporkan konferensi dan Multaqa tersebut akan berlangsung selama tiga hari. Yaitu mulai tanggal 18 hingga 20 Oktober 2017. Selama kegiatan tersebut akan dibahas tiga isu utama, yang saat ini sedang menjadi persoalan masyarakat muslim nasional dan dunia.

Pertama, peserta akan membahas batasan antara ke-Islaman dan kekufuran. Kedua, tentang fatwa-fatwa yang akhir-akhir ini semakin tidak memiliki pedoman. Apalagi di era informasi dan teknologi saat ini, termasuk media sosial. Sehingga, fatwa yang beredar di media sosial saat ini menimbulkan kekacauan penafsiran dan membingungkan umat. Isu yang ketiga adalah metode dakwah kontemporer.

Hadir juga dalam kegiatan tersebut, ketua Organisasi Alumni Kairo Indonesia, Prof. Dr. H. Qurais Shihab, mantan Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Ibrahim Al-Hud-Hud, Wakil Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Abu Hasyim dan seluruh delegasi dari berbagai dunia, yang jumlahnya sekitar 25 orang.

iNu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here